Indonesia terletak di salah satu jalur perdagangan paling padat di dunia, yaitu Selat Malaka. Kedekatan dengan raksasa ekonomi dunia baru, yaitu Cina dan India, akan mewarnai peranan Indonesia dalam globalisasi. Berada di jalur khatulistiwa, Indonesia menikmati sinar matahari sepanjang tahun dengan iklim tropis dan tanah yang subur.
Satu dimensi pemanfaatan sumber daya alam sebagai factor produksi dalam jangka panjang adalah FEW: Food, Energy, dan Water. Istilah ‘few’ (sedikit) digunakan untuk mengingatkan Indonesia agar mengantisipasisemakin berkurangnya sumber makanan, energi, dan air.
FOOD (Pangan)
Pangan harus tersedia secara mencukupi dan merata bagi seluruh rakyat Indonesia untuk memenuhi kebutuhan hidup yang sehat dan produktif. Pada sisi konsumsi, perlu dilakukan terus upaya diversifikasi. Diversifikasi akan terjadi jika pendapatan masyarakat meningkat dan produk pangan dihargai sesuai dengan nilai ekonominya. Semakin tinggi tingkat pendapatan masyarakat, maka akan semakin turun permintaan terhadap bahan pangan primer dan semakin tinggi permintaan terhadap kandungan jasa dan bahan penolong yang terdapat dalam pangan.
ENERGY (Energi)
Beberapa sumber energi yang tak terbarukan memiliki umur yang dapat diperkirakan, antara lain:
- Cadangan minyak bumi saat ini 9 miliar barel.
Dengan produksi rata-rata 500 juta barel/thn, maka cadangan tersebut akan habis dalam waktu 18 tahun.
- Cadangan gas alam saat ini sebesar 182 triliun kaki kubik.
Dengan produksi rata-rata 3 triliun kaki kubik/thn, maka cadangan tersebut akan habis dalam waktu 61 tahun.
- Cadangan serta sumberdaya terukur batubara saat ini sebesar 19,4 miliar ton.
Dengan produksi rata-rata 150 juta ton/thn, maka cadangan tersebut akan habis dalam waktu sekitar 130-an tahun.
Untuk mengamankan pasokan energi dan menjaga keberlanjutan ketersediaan energi, Indonesia sudah harus segera mendorong pemanfaatan SDA terbarukan. Peran sumber daya energi terbarukan di masing-masing daerah juga penting untuk mengurangi dampak pemanasan global.
Isu lingkungan hidup global perlu diimbangi dengan dorongan untuk dikembangkan dan diterapkannya teknologi yang lebih ramah lingkungan dalam pemanfaatan dan pengolahan sumberdaya alam.
WATER (Air Bersih)
Menjadi negara maju di tahun 2030 ditandai dengan kualitas hidup masyarakat yang lebih layak. Salah satunya adalah akses terhadap air bersih yang merata di seluruh lapisan masyarakat.
Pada periode tahun 1990-2005, 89% penduduk di kota dan 57% penduduk di pedesaan sudah mendapatkan pelayanan air bersih.
Di tahun 2030, diharapkan 100% penduduk perkotaan dan 90% penduduk pedesaan sudah dapat menikmati pelayanan air bersih (melalui jaringan pipa dan bukan sumur).
Pada tahun 2025, masyarakat perkotaan teruatam yang hidup di kota-kota besar akan mulai menikmati air minum langsung dari keran (tap water).
Aksesnya terhadap air bersih yang lebih luas secara tidak langsung akan menunjang terciptanya SDM yang berkualitas dan mendorong bergeraknya sektor perekonomian terutama sektor jasa.
-dikutip dari “VISI INDONESIA 2030” (Indonesia Forum) www.indforum.org-
June 20, 2008 at 6:08 am
gw setuju semua ide lw….tapi klo bisa lebih cepat, lebih bagus..